Aku masih mengenali setapak jalan ini, bukan jalan di desa ataupun di kota. Namun aku selalu menemukan kesejukan dan kenyamanan disini sekalipun aku sendiri. Aku terus menyusuri, seakan-akan tiap langkahku menanyangkan cuplikan-cuplikan gerak yang pernah terjadi disini. Setapak demi setapak aku melangkah, perlahan juga lambat bahkan mungkin siput yang bertengger pada lumut di sebelahku sudah mendahului langkahku. Aku sengaja memperlambat langkahku karena aku ingin mengulang kembali kenangan yang dulu pernah ku lalui disini. Aku menikmati setiap langkah yang ku ayunkan, tak tergesa-gesa karena aku tak sedang gelisah, tak terburu-buru karena kini aku bersahabat dengan waktu. Tapi kini waktu tak pernah bersahabat denganku dulu, ia selalu saja merenggut suka citaku, gelak tawaku, dan juga kebersamaanku. Kebersamaanku dengannya yang kini telah berpesiar di negeri antah brantah atau mungkin sedang berselancar di Skotlandia, atau ia sudah berpindah ke planet tanpa nama, Entahlah. Aku tak p...
Comments
Post a Comment